Powered by Blogger.
Home » » TABAYYUN UNTUK MENJAUHKAN HOAX

TABAYYUN UNTUK MENJAUHKAN HOAX

Oleh : Anang Anas Azhar

Akun twitter Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono, satu pekan terakhir tampil menjadi viral media sosial. Unggahan SBY berisi curhat situasi terkini bangsa justru hangat diperbicangkan, tak terkecuali di surat kabar, radio, televisi bahkan jaringan media sosial.

Akun resmi SBY, mengunggah tweet curhat kepada Tuhan, pada Jumat (20/1/2017) lalu. Isi curhatnya, terkait fitnah yang dianggap merajalela belakangan ini. Di akhir tweeternya tertulis "Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar hoax berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yang lemah menang? Demikian tweet SBY itu.

Kicauan SBY di tweeternya, tidaklah berlebihan jika kita kaitkan terhadap kondisi riil bangsa Indonesia saat ini. Informasi yang benar, paling tidak mengkroscek ulang apa yang sudah terjadi di negara ini. Sebaliknya, informasi hoax justru memperparah keadaan bangsa yang menjurus kepada perpecahan. Kicauan SBY di akun tweetnya tidak segampang apa yang kita bayangkan menulisnya. Kicauan SBY hemat penulis setidaknya menjadi arah kiblat bangsa ini untuk diperbincangkan para elit bangsa. Isinya cukup padat dan pesan-pesan yang dimunculkan tidak membutuhkan tafsir yang menimbulkan pemahaman berbeda.

Meski pesan yang ditampilkan dalam tweet tersebut membangkitkan kemarahan sebagian pihak, namun kemarahan itu harus dijadikan introspeksi diri. SBY tentu memiliki bukti yang kuat sebelum mengeluarkan pernyataan di media sosial. Karena itu, tak patutlah kita menyalahkan SBY dalam kicauannya. Paling tidak, sebagai masyarakat yang melek informasi, semua pihak menjadikan informasi sebagai bahan introspeksi diri.

Bercermin dari ajaran Islam, ternyata Islam memberikan ruang tersendiri kepada setiap informasi. Ajaran Islam tidak serta merta menerima bulat informasi begitu saja, tetapi informasi yang diterima harus diperiksa dan diteliti secara akurat. Allah Swt berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Alhujarat ; 6).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini termasuk ayat yang agung, karena mengandung pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah. Apalagi perintah Allah Swt ini berada dalam surat Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah sehingga Sayyid Quthb mengkategorikannya sebagai surat yang agung lagi padat.

Sejumlah pesan yang tersenbunyi dari ayat tersebut, setidak memberikan peringatan tidak sembarangan dan sudah tentu bukan tanpa sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi. Dalam sebuah alkisah, beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad.

Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya. Padahal, ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu.

Yang menjadi catatan kita bersama adalah informasi apapun namanya, apakah berasal dari lisan atau dari media sosial harus diteliti terlebih dahulu. Umat Islam yang menerima itupun harus sadar, apakah informasi yang diterima benar atau tidak. Jika diragukan, maka perlu dilakukan pertimbangan yang matang untuk menerima informasi tersebut. Bisa jadi, informasi yang dianggap benar, tapi arahnya dapat menyesatkan umat Islam. 

Dalam konteks Islam, yang perlu diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Sebab, bisa jadi sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.**

0 comments:

Post a Comment