MEDAN – Ratusan mahasiswa Fakultas Dakwah dan
Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), melaksanakan
kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pema) di sejumlah desa di Kabupaten Dairi,
Provinsi Sumatera Utara.
Para mahasiswa terdiri dari Prodi Manajemen Dakwah (MD) dan
Prodi Komunikasi Dan Penyiaran Islam (KPI), dilepas secara resmi Dekan FDK
UINSU, sebelum berangkat menuju lokasi pengabdian masyarakat terhitung 6 – 15 Juli
2026 mendatang.
Dekan FDK UINSU Prof Dr Hasan Sazali M.Ag diwakili Wakil
Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama Prof Dr Anang Anas Azhar
MA, Jumat (03/07/2026), mengatakan pengabdian masyarakat merupakan bagian
penting dari pelaksanaan Tri Dharma
Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat.
Dia menegaskan, mahasiswa tidak cukup hanya memperoleh
pengetahuan melalui proses pembelajaran di dalam ruang kuliah. Mahasiswa juga
harus hadir di tengah masyarakat untuk mengimplementasikan pengetahuan,
keterampilan komunikasi, nilai-nilai keislaman, dan pengalaman akademik yang
telah diperoleh selama perkuliahan.
“Karena kegiatan ini mendukung program fakultas sekaligus
menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, kita memberikan apresiasi
kepada para mahasiswa yang melaksanakan pengabdian masyarakat. Apalagi, saya
memperoleh informasi bahwa lokasi pengabdian cukup jauh dari Kota Medan, yakni
di Kabupaten Dairi,” kata Prof Anang ketika menyampaikan sambutan pelepasan
mahasiswa FDK tersebut.
Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Sumatera Utara yang terdiri atas 15 kecamatan. Ibu kota Kabupaten Dairi berada
di Sidikalang, dengan jarak sekitar 153 kilometer dari Kota Medan. Waktu
perjalanan menuju daerah tersebut dapat mencapai empat hingga lima jam,
bergantung pada kondisi lalu lintas, cuaca, dan lokasi desa yang menjadi tujuan
mahasiswa.
Jarak perjalanan yang cukup jauh tersebut, lanjut Prof.
Anang, harus menjadi perhatian seluruh peserta. Mahasiswa diminta mempersiapkan
kesehatan, perlengkapan pribadi, kebutuhan kegiatan, serta menjaga kekompakan
selama perjalanan maupun selama berada di lokasi pengabdian.
Prof Anang mengingatkan mahasiswa membawa nama baik Fakultas
Dakwah dan Komunikasi serta UIN Sumatera Utara. Karena itu, seluruh peserta
harus menunjukkan sikap yang santun, disiplin, ramah, dan bertanggung jawab
ketika berinteraksi dengan aparat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda,
serta warga setempat.
“Kata kuncinya adalah menjaga nama baik UINSU sebagai
lembaga pendidikan Islam. Mari kita jaga nama baik universitas dan fakultas
dengan menunjukkan perilaku yang baik. Kehadiran mahasiswa harus memberikan
manfaat, bukan justru menimbulkan persoalan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Kepada para mahasiswa, Prof Anang berpesan agar senantiasa
menjaga diri selama berada di lokasi pengabdian. Mahasiswa harus memahami bahwa
masyarakat Dairi memiliki latar belakang agama, budaya, pendidikan, dan
kehidupan sosial yang beragam. Pada sejumlah wilayah, umat Islam juga hidup sebagai
kelompok minoritas di tengah masyarakat yang majemuk.
“Saya meminta mahasiswa mengedepankan sikap toleran,
moderat, dan menghormati adat istiadat masyarakat setempat. Setiap program yang
dilaksanakan harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah desa dan
tokoh masyarakat agar sesuai dengan kebutuhan, kondisi sosial, serta kebiasaan
masyarakat di lokasi pengabdian,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, kata dia, mahasiswa harus dapat
merancang kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pembinaan
keagamaan, peningkatan literasi, pendidikan anak-anak, pengembangan kreativitas
remaja, penyuluhan sosial, kegiatan kebersihan lingkungan, serta penguatan
komunikasi dan kerukunan masyarakat.
Program pengabdian tersebut juga diharapkan mampu membangun
kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, tokoh agama, pemuda, dan kelompok
masyarakat. Kolaborasi menjadi penting agar program yang dijalankan tidak hanya
bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberikan manfaat dan meninggalkan
kesan positif bagi masyarakat.
Bagi mahasiswa FDK UINSU, kegiatan Pema menjadi ruang
pembelajaran sosial sekaligus laboratorium dakwah dan komunikasi. Mahasiswa
dapat mempraktikkan kemampuan berkomunikasi, menyusun program, memecahkan
masalah, bekerja dalam tim, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan membangun
hubungan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Dia mengatakan, pelaksanaan Pema pada masa libur panjang
juga diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian sosial mahasiswa. “Dengan
demikian, masa libur tidak hanya digunakan untuk beristirahat, tetapi diisi
dengan kegiatan pengabdian yang mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan memperkuat peran mahasiswa sebagai
agen perubahan di tengah masyarakat,” katanya.
Prof. Anang berharap seluruh rangkaian pengabdian masyarakat
di Kabupaten Dairi dapat berjalan dengan aman, lancar, dan sukses. Para
mahasiswa diharapkan kembali ke kampus dengan membawa pengalaman, pengetahuan,
serta pemahaman baru tentang kehidupan masyarakat, sekaligus meninggalkan
program dan kenangan yang bermanfaat bagi desa-desa tempat mereka mengabdi. ** a3

0 Komentar