Di website Dr. Anang Anas Azhar, MA, kami berkomitmen untuk menghadirkan ruang inspirasi dan pembelajaran yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan serta karakter berbasis nilai-nilai Islami. Kami mendorong pembaca untuk tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membangun karakter, keterampilan sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui platform ini, kami berharap masyarakat dapat lebih memahami visi dan misi dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Profil Lengkap Prof. Dr. Anang Anas Azhar, S.Ag., M.A, Guru Besar Komunikasi Politik Islam FDK UIN Sumatera Utara

 

                                    


MEDAN - Prof. Dr. Anang Anas Azhar, S.Ag., M.A. adalah sosok akademisi, peneliti, penulis, dan praktisi komunikasi yang memiliki jejak panjang dalam dunia intelektual, jurnalistik, aktivisme, hingga pengalaman di panggung politik. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya tumbuh di ruang kelas, tetapi juga ditempa pengalaman lapangan, pergulatan sosial, dan keberanian untuk berpikir kritis terhadap realitas umat dan bangsa.

Di lingkungan akademik, ia dikenal sebagai figur yang mencurahkan tenaga, waktu, dan pikirannya secara full time pada pengembangan Komunikasi Politik dan Komunikasi Politik Islam, khususnya di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Sebagai dosen PNS yang meniti karier akademik yang sungguh-sungguh, Prof. Anang Anas Azhar menempatkan riset tidak sekadar kewajiban profesi, melainkan jalan pengabdian intelektual. Salah satu bidang yang konsisten ia dalami adalah pencitraan politik dalam perspektif Islam. Melalui kepakarannya, ia berhasil memadukan teori komunikasi modern dengan nilai-nilai etik Islam, lalu mengelaborasi bahwa pencitraan politik tidak semestinya dipahami sebagai rekayasa semu belaka, tetapi lebih jauh dari itu dapat diarahkan menjadi praktik komunikasi politik yang berakar pada amanah, kejujuran, akhlak, dan kemaslahatan publik.

Bagi beliau, politik dalam Islam tidak hanya ansih perebutan kekuasaan, tetapi juga soal tanggung jawab moral. Karena itu, gagasan pencitraan politik yang ia bangun selalu berangkat dari keyakinan bahwa citra seorang pemimpin harus tumbuh dari integritas, bukan dari manipulasi; lahir dari akhlak, bukan dari kepura-puraan; dan dibuktikan lewat keberpihakan nyata kepada masyarakat, bukan sekadar slogan saat kampanye. Di sinilah kekuatan intelektual Prof. Anang Anas Azhar tampak: ia tidak hanya membaca politik sebagai arena strategi, tetapi juga sebagai ruang etika dan pengabdian.

Prof. Anang Anas Azhar lahir di Desa Tebing Linggahara, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, pada 4 Oktober 1974. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Rantau Prapat, yakni di Sekolah Dasar Inpres No 116241, MTsN, dan MAN pada rentang 1982–1993. Setelah itu, pada tahun 1993, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Penyiaran dan Penerangan Agama Islam (PPAI) - kini berkembang menjadi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sumatera Utara Medan. Menariknya, gelar sarjana, magister, hingga doktor ia raih di almamater yang sama. Kesetiaan intelektualnya kepada kampus ini sekaligus menjadi bukti kuat bahwa pengabdian akademik tidak selalu harus berangkat dari banyak tempat, tetapi bisa tumbuh besar dari satu rumah keilmuan yang dirawat dengan cinta dan kesungguhan.

Sebelum sepenuhnya berkiprah di dunia kampus, beliau juga pernah menjalani profesi sebagai wartawan. Pengalaman jurnalistik itu memberinya kepekaan membaca realitas sosial-politik secara tajam sekaligus membentuk gaya berpikir yang kritis, responsif, dan komunikatif. Dalam dunia pers, ia bahkan meraih sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Utama dari Dewan Pers pada tahun 2014, serta tercatat sebagai anggota PWI. Pengalaman ini memberi warna tersendiri dalam perjalanan intelektualnya: ia tidak hanya menguasai teori komunikasi, tetapi juga memahami denyut komunikasi publik dari praktik yang nyata.

Selain dunia jurnalistik, Prof. Anang Anas Azhar juga pernah bergelut di ranah politik praktis sebelum akhirnya berhijrah sepenuhnya menjadi dosen tetap PNS di UIN Sumatera Utara Medan. Pengalaman tersebut justru memperkaya perspektif akademiknya. Ia memahami politik bukan dari kejauhan, melainkan dari dalam. Karena itu, ketika ia berbicara tentang komunikasi politik, kampanye, pencitraan, legitimasi, opini publik, dan etika demokrasi, semua itu lahir bukan hanya dari bacaan teoritis, tetapi juga dari pengalaman empiris yang mendalam.

Kini, sebagai Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara Medan dengan bidang kepakaran Komunikasi Politik Islam, beliau fokus mengabdikan diri pada dunia akademik. Ia mengampu berbagai mata kuliah seperti Komunikasi Politik, Komunikasi Politik Islam, serta mata kuliah dalam rumpun Ilmu Jurnalistik. Di samping aktif mengajar di tingkat sarjana, beliau juga terlibat sebagai pembimbing dan penguji pada program doktoral, khususnya di Program Studi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU, baik sebagai promotor, co-promotor, maupun penguji.

Tidak hanya di UINSU, dedikasi akademiknya juga menjangkau kampus lain. Hingga saat ini, beliau masih dipercaya mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Medan, dengan mata kuliah seperti Komunikasi Politik, Komunikasi Pemasaran Politik, dan Kebijakan Publik. Sebelumnya, pada periode 2017–2019, ia juga pernah mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Darma Agung (UDA) Medan. Hal ini menunjukkan bahwa kepakarannya diakui lintas institusi dan dibutuhkan dalam pengembangan studi komunikasi di Sumatera Utara.

Dalam bidang kepemimpinan akademik, Prof. Anang Anas Azhar juga telah menerima berbagai amanah penting. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Gugus Kendali Mutu (GKM) Program Studi Ilmu Komunikasi FIS UINSU pada tahun 2016, kemudian menjadi Staf Ahli Rektor UINSU Bidang Komunikasi pada periode 2017–2020, dan selanjutnya dipercaya sebagai Sekretaris Program Studi KPI S2 FDK UINSU pada periode 2020–2021. Saat ini, beliau mengemban amanah sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU Medan periode 2023–2027. Amanah yang berlapis ini menegaskan bahwa beliau bukan hanya seorang pemikir, tetapi juga pengelola akademik yang matang.

Di luar kampus, jejak pengabdiannya juga sangat kuat dalam dunia organisasi dan gerakan kepemudaan Islam. Anak dari pasangan Saibon AS (alm.) dan Jamilah SM (almh.) ini tumbuh sebagai aktivis yang terbentuk dalam tradisi intelektual dan perjuangan organisasi. Ia dikenal sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Sumatera Utara, pernah menjabat Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara periode 2006–2010, lalu menjadi Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2010–2014. Saat ini, beliau juga dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Sumatera Utara periode 2022–2027, serta Wakil Ketua Korwil Forum Keluarga Alumni (FOKAL) IMM Sumatera Utara. Rangkaian amanah itu memperlihatkan bahwa kepemimpinannya tumbuh dari akar gerakan, bukan hanya dari jabatan formal semata.

Sebagai penulis dan peneliti, produktivitas Prof. Anang Anas Azhar sangat menonjol. Selama menjadi dosen dan peneliti, beliau telah menghasilkan 15 buku (sampai awal 2026), selain berbagai artikel ilmiah, penelitian, opini, dan tulisan populer. Sejumlah karya pentingnya yang banyak dikenal antara lain ; Komunikasi Politik Untuk Pencitraan (Konsep, Strategi dan Pencitraan Politik), Perdana Publishing Medan (2017); Pencitraan Politik Elektoral (Kajian Politik Segitiga PAN dalam Merebut Simpati Masyarakat), Atab Buku, Yogyakarta (2017); The Black Magic of National Mandate Party/Partai Amanat Nasional Gaining The Real Vote, Lambert Academic Publishing (2018); Komunikasi Islam (Kajian Konsep dan Implementasi Politik Islam), Medan Kreasi (2024); Komunikasi Politik Kontemporer, Pusdikra Medan (2024); Komunikasi Politik Islam (Kajian Konsep dan Aplikasi Komunikasi Politik Islam), Literasi Nusantara (2025); serta buku terbarunya, Metodologi Penelitian Komunikasi Politik Islam (Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed Methods bagi Masyarakat Multikultural), Literasi Nusantara, Malang (2026). Pencitraan Politik Islam (Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik ala islam), Merdeka Kreasi (2026).

Selain itu, beliau juga menulis buku-buku lain seperti Politisi Teladan (Biografi H. Abdul Wahab Dalimunthe) (2023) dan Membangun Komunikasi Stunting (Strategi Komunikasi Komunitas dalam Pencegahan Stunting) (2025). Ia pun tercatat sebagai kontributor dalam sejumlah buku penting, seperti Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan (Prenada Media Group, 2019) dan Menuju World Class University (Khair Al Jami’ah) (CV Manhaji–UIN Press Medan, 2018), serta menjadi editor untuk buku Komunikasi AFIFI Model (UMSU Press, 2025) dan Komunikasi Kebijakan Publik (Litnus, 2025). Karya-karya tersebut memperlihatkan keluasan perhatian akademiknya, mulai dari komunikasi politik, komunikasi Islam, kepemimpinan, kebijakan publik, hingga isu-isu sosial kemasyarakatan.

Dalam bidang penelitian, beliau juga aktif menelurkan karya-karya yang menempatkan komunikasi politik sebagai fokus utama. Di antara riset yang pernah ia lakukan adalah penelitian tentang Pencitraan Politik Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Menarik Simpati Masyarakat di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2005–2015, Pengaruh Membaca Berita Kriminal di Surat Kabar Harian Medan terhadap Kondisi Psikologis Mahasiswa IAIN Sumatera Utara, serta Kecenderungan Peminatan Mahasiswa Program Studi Komunikasi Islam Pascasarjana UINSU Medan Tahun 2010–2016. Salah satu karya ilmiah pentingnya yang terbit pada jurnal bereputasi adalah Faith-Based Political Communication in Mandailing Natal’s Regional Elections, yang dipublikasikan pada Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 13 No. 2 Tahun 2025. Karya-karya ini menunjukkan bahwa perhatian intelektualnya selalu berangkat dari konteks nyata masyarakat, terutama hubungan antara agama, politik, media, dan demokrasi.

Tidak berhenti di ruang akademik, Prof. Anang Anas Azhar juga aktif sebagai kolumnis di berbagai media massa nasional dan lokal, termasuk Harian Umum Waspada di Medan serta sejumlah media daring lainnya. Tercatat, tulisan opini dan artikelnya telah mencapai 721 tulisan, dengan fokus utama pada isu-isu komunikasi politik kontemporer. Ia juga aktif menulis di berbagai jurnal ilmiah, mulai dari jurnal internasional bereputasi hingga jurnal nasional terakreditasi. Dalam ruang publik, beliau sering hadir sebagai pengamat komunikasi politik, narasumber diskusi publik, serta pembicara dalam berbagai forum kepemiluan. Sejak tahun 2013 hingga sekarang, ia juga terlibat sebagai narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) untuk penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang diselenggarakan oleh BPS Sumatera Utara. Peran ini menegaskan bahwa pemikirannya tidak berhenti di kampus, melainkan hadir dan dibutuhkan dalam pembacaan persoalan demokrasi secara lebih luas.

Di balik segala capaian akademik dan sosial itu, Prof. Anang Anas Azhar tetap hadir sebagai seorang pribadi yang dekat dengan keluarga. Beliau adalah suami dari Evi Sakdiah, S.Ag., M.Sos., dan ayah dari empat putra: M. Choirur Rais Alvizar, M. Hafiz Alvizar, M. Tahfif Alvizar, dan M. Fikri Rizki Alvizar. Keluarga menjadi ruang teduh yang mengiringi perjalanan pengabdian beliau sebuah tempat pulang setelah panjangnya jalan ilmu, organisasi, dan tanggung jawab sosial.

Sebagai Guru Besar, Prof. Dr. Anang Anas Azhar tidak hanya menghadirkan gelar akademik tertinggi, tetapi juga mewariskan gagasan penting tentang bagaimana politik seharusnya dibangun di tengah masyarakat Muslim. Dalam pidato pengukuhannya yang bertajuk “Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam”, beliau menegaskan bahwa politik tidak boleh dibiarkan jatuh menjadi sekadar panggung pencarian suara. Politik harus dikembalikan kepada martabatnya sebagai jalan pengabdian, ruang etik, dan sarana menegakkan kemaslahatan. Bagi beliau, pencitraan politik dalam Islam bukanlah seni memoles kebohongan, melainkan upaya memperkenalkan kualitas akhlak, amanah, dan kapasitas kepemimpinan yang benar-benar nyata.

Ada tiga gagasan besar yang menonjol dari pemikiran beliau. Pertama, pencitraan politik harus digeser dari simbol ke akhlak. Jubah religius, jargon keagamaan, atau kedekatan simbolik dengan tokoh agama tidak cukup jika tidak dibarengi kejujuran, keadilan, dan kepedulian kepada rakyat. Kedua, ulama tidak semestinya hanya menjadi stempel politik, tetapi harus hadir sebagai penuntun etika demokrasi, penjaga akhlak kontestasi, dan pengarah umat agar tidak larut dalam fitnah, kebencian, dan politik uang. Ketiga, kampanye ala Islam harus berbasis maslahat, bukan kultus figur. Politik yang sehat, menurut beliau, bukan bertanya “siapa didukung siapa,” melainkan “apa manfaatnya bagi umat, bangsa, dan masa depan bersama.”

Inilah yang menjadikan Prof. Dr. Anang Anas Azhar, S.Ag., M.A. tidak hanya seorang profesor, tetapi juga seorang pemikir yang berusaha merawat jembatan antara ilmu, iman, dan realitas sosial. Ia adalah akademisi yang tumbuh dari akar masyarakat, ditempa oleh gerakan, diperkaya oleh dunia jurnalistik dan politik, lalu mengabdikan seluruh pengalaman itu untuk membangun tradisi keilmuan yang bermartabat. Dalam dirinya, kita melihat bahwa ilmu bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk diperjuangkan; bukan hanya untuk ditulis, tetapi juga untuk dihidupkan dalam etika dan pengabdian.

Prof. Anang Anas Azhar adalah cermin seorang intelektual yang percaya bahwa komunikasi politik Islam harus menghadirkan pencerahan, bukan penyesatan; membangun kepercayaan, bukan manipulasi; dan memperkuat kemaslahatan, bukan sekadar kemenangan. Dari Desa Tebing Linggahara hingga mimbar guru besar, perjalanan beliau adalah kisah tentang ketekunan, pengabdian, dan keberanian menjaga nilai di tengah dinamika zaman. (a3)

0 Komentar